SOICHIROHONDA

Test Post 4

Kisah Sukses Saichiro Honda SAICHIRO HONDA Soichiro Honda lahir tanggal 17 November 1906 di Iwatagun (kini Tenrryu City) yang terpencil di Shizuoka prefecture. Daerah Chubu di antara Tokyo, Kyoto, dan Nara di More »

AndriWongso

Test posting 3

Kisah Sukses Andrie Wongso ANDRIE WONGSO Siapa yang tak kenal akan sosok Andrie Wongso, the number one motivator di Indonesia?Jalan sukses seorang Andrie Wongso bukan merupakan kisah yang mudah diceritakan dalam sekejap. More »

img_2891_2058_20120705155233

Test Posting-2

Menjadi seorang wirausaha sukses jangan drop out atau putus kuliah. Demikian dikatakan oleh pengurus pusat Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) Sandiaga S Uno dalam kulih tamu ICMI di Gedung FT UB, Kamis More »

richard-branson-611x270

Test Posting 1

Apakah Orang “Bodoh” Bisa jadi Pengusaha Sukses?. Sebelum kita membahas judul dari artikel diatas mari kita bahas dulu makna kata “Bodoh”. Kata “Bodoh” dalam masyarakat kita sering diartikan tidak sekolah atau tidak More »

Test Post 4

SOICHIROHONDA

Kisah Sukses Saichiro Honda

SAICHIRO HONDA

Soichiro Honda lahir tanggal 17 November 1906 di Iwatagun (kini Tenrryu City) yang terpencil di Shizuoka prefecture. Daerah Chubu di antara Tokyo, Kyoto, dan Nara di Pulau Honshu yang awalnya penuh tanaman teh yang rapi, yang disela-selanya ditanami arbei yang lezat. Namun kini daerah kelahiran Honda sudah ditelan Hamamatsu yaitu kota terbesar di provinsi itu.Ayahnya bernama Gihei Honda seorang tukang besi yang beralih menjadi pengusaha bengkel sepeda, sedangkan ibunya bernama Mika, Soichiro anak sulung dari sembilan bersaudara, namun hanya empat yang berhasil mencapai umur dewasa. Yang lain meninggal semasa kanak-kanak akibat kekurangan obat dan juga akibat lingkungan yang kumuh.

Walaupun Gihei Honda miskin, namun ia suka pembaharuan. Ketika muncul pipa sigaret modal Barat, ia tidak ragu-ragu mengganti pipa cigaret tradisionalnya yang bengkok, tidak peduli para tetangganya menganggapnya aneh. Rupanya sifat itu dan juga keterampilannya menangani mesin menurun pada anak sulungnya.

Sebelum masuk sekolah pun Soichiro sudah senang, membantu ayahnya di bengkel besi. Ia juga sangat terpesona melihat dan mendengar dengum mesin penggiling padi yang terletak beberapa kilometer dari desanya.

Di sekolah prestasinya rendah. Honda mengaku ulangan-ulangannya buruk. Ia tidak suka membaca, sedangkan mengarang dirasakannya sangat sulit. Tidak jarang ia bolos. “Sampai sekarang pun saya lebih efisien belajar dari TV daripada dari membaca. Kalau saya membaca, tidak ada yang menempel di otak,” katanya.

Ketika sudah kelas lima dan enam, bakat Soichiro tampak menonjol di bidang sains. Walaupun saat itu baru belasan tahun, namun dalam kelas-kelas sains di Jepang sudah dimunculkan benda-benda seperti baterai, timbangan, tabung reaksi dan mesin. Dengan mudah Soichiro menangkap keterangan guru dan dengan mudah ia menjawab pertanyaan guru.

Beberapa waktu sebelum itu, untuk pertama kalinya Soichiro melihat mobil. “Ketika itu saya lupa segalanya. Saya kejar mobil itu dan berhasil bergayut sebentar di belakangnya. Ketika mobil itu berhenti, pelumas menetes ke tanah. Saya cium tanah yang dibasahinya. Barangkali kelakuan saya persis seperti anjing. Lalu pelumas itu saya usapkan ke tangan dan lengan. Mungkin pada saat itulah di dalam hati saya timbul keinginan untuk kelak membuat mobil sendiri. Sejak saat itu kadang-kadang ada mobil datang ke kampung kami. Setiap kali mendengar deru mobil, saya berlari ke jalan, tidak peduli pada saat itu saya sedang menggendong adik.”

Soichiro hanya mengalami duduk di bangku sekolah selama sepuluh tahun. Sesudah lulus SD, anak nakal itu dikirim ke sekolah menengah pertama di Futumata yang tidak jauh dari kediamannya. Lulus dari sekolah menengah itu ia pulang ke rumah ayahnya. Gihei Honda sudah beralih dari pandai besi menjadi pengusaha bengkel sepeda. Gihei Honda memiliki majalah The World of Wheels yang dibaca Soichiro dengan penuh minat.

Di majalah itu sebuah bengkel mobil dari Tokyo memasang iklan mencari karyawan. Soichiro buru-buru melamar dan ia diterima. Walaupun ayahnya khawatir, namun Soichiro diantar juga ke kota besar itu.

Honda hampir tidak percaya pada telinganya Honda merasa saat menunggu dipanggil belajar menjadi montir itu benar-benar merupakan ujian ketabahan yang paling berat, yang pernah dihadapinya seumur hidupnya. Di masa-masa setelah itu ia sudah tidak takut lagi menghadapi rintangan apa pun berkat ketabahan yang diperolehnya selama menjadi kacung.

Honda yang selama kariernya tidak tahu banyak mengenai uang, Cuma mendapat keuntungan sedikit sekali tahun pertama itu. Tetapi Honda merasa beruntung karena bengkelnya sukses. Ia memutuskan untuk menabung dan memperkirakan selama masa kerjanya akan mampu mengumpulkan sampai 1.000 yen.

Selama hidupnya Honda terkenal sebagai penemu. Ia memegang hal paten lebih dari 100 penemuan pribadi. Yang pertama, ditemukannya ialah teknik pembuatan jari-jari mobil dari logam. Ketika itu mobil-mobil di Jepang memakai jari-jari kayu yang mudah terbakar. Perusahaan-perusahaan Jepang segera mengekspor jari-jari logam itu sampai ke India. Pada umur 25 tahun ia memperoleh keuntungan 1.000 yen sebulan.

Perusahaan juga menghargai orang-orang muda dan selalu merekrut orang-orang muda untuk memberi “darah baru” dan gagasan segar. Ketika Honda mengundurkan diri tahun 1973, yang dipilihnya sebagai pengganti ialah Kyoshi Kawashima, kepala bagian riset perusahaan Honda. Selama sejarahnya, perusahaan Honda hanya pernah mengalami pemogokan sekali pada tahun 1954. Ketika itu Honda dan manajemen di satu pihak menghadapi pekerja-pekerja dan adik Honda di Pihak lain. Tetapi sebagai layaknya perusahaan di Jepang semuanya itu diselesaikan dengan musyawarah.

Sejak tahun 1973 Honda pindah ke pasaran kendaraan beroda empat untuk bisa tetap mengembangkan jumlah penghasilan perusahaan. Stafnya yang pada masa Honda bertambah 10% setiap tahun. Kalau mereka bertambah tua, artinya beban perusahaan akan bertambah berat. Padahal Honda menghadapi persaingan berat di pasaran dalam negeri dan luar negeri. Untuk bisa tetap menciptakan pasaran baru mereka harus selalu mencari teknik yang unik dan efisien serta menjual produk dengan harga bersaing.

Namun ketika Honda dan Fujisawa mengundurkan diri pada musim gugur tahun 1973, Honda berkata, “Saya bisa mundur tanpa perasaan khawatir, karena saya yakin perusahaan akan terus maju dengan penuh semangat, menanggulangi pelbagai kesulitan dan luwes, tanpa kehilangan kesegarannya.”

“Terus terang saya merasa muda dalam hal mental maupun fisik,” kata Honda. “Saya kira kalian tidak bisa menang dari saya. Namun saya mesti mengakui sekarang saya sering merasa iri hati pada orang muda. Saya diberi tahu bahwa di Amerika pemimpin umum perusahaan berumur 40-an dan perusahaan yang dipimpin orang berusia 60-an tahun sering mengalami stagnasi. Kita sekarang memang memasuki zaman baru yang memerlukan nilai-nilai baru. Walaupun saya dan wakil pemimpin umum merasa kami masih muda, kami kira umur kami sudah lewat untuk memimpin.”

Kalau saya menengok kembali ke belakang, saya lihat bahwa yang saya buat tidak lain daripada kesalahan, serentetan kegagalan dan serentetan sesalan,” kata Honda. “Tetapi saya juga bangga untuk keberhasilan saya. Walaupun saya sering membuat kesalahan dan kegagalan, namun semua itu tidak pernah disebabkan oleh hal sama. Saya tidak pernah mengulangi kesalahan dan saya selalu berusaha sekuat mungkin untuk memperbaiki diri. Dalam hal itu saya berhasil.

“Ia tetap memegang saham terbesar di perusahaannya. Ketika mengundurkan diri tahun 1973 penghasilannya mendekati 1,7 miliar dolar. Walaupun sudah pensiun omongannya masih didengar. Katanya, masa depan industri Jepang bukan ditentukan oleh untuk cepat, tetapi oleh mutu barang yang kita buat dan pengaruhnya terhadap kepentingan sesama manusia. Kalau kita membuat barang yang menyebabkan banyak polusi kemungkinan kita akan untung, tetapi hanya sebentar, sesudah itu bangkrut. Kami di perusahaan Honda sering bergurau: Enak juga ada perusahaan-perusahaan besar yang kerjanya hanya memikirkan untung besar saja. Akibatnya perusahaan kecil seperti Honda mendapat kesempatan untuk membuat barang yang baik.

Test posting 3

AndriWongso

Kisah Sukses Andrie Wongso

ANDRIE WONGSO

Siapa yang tak kenal akan sosok Andrie Wongso, the number one motivator di Indonesia?Jalan sukses seorang Andrie Wongso bukan merupakan kisah yang mudah diceritakan dalam sekejap. Dilahirkan dengan segala keterbatasan ternyata tidak membuat Andrie Wongso menyerah. Keterbatasan itu bukan merupakan batu sandungan, justru menjadi batu pijakan untuk bangkit dan melangkah menuju sebuah kehidupan yang lebih baik.

Lahir di kota sejuk Malang, Andrie Wongso kecil hidup dalam keterbatasan finansial. Usia 22 tahun hijrah ke Jakarta karena mendapat panggilan kerja sebagai seorang salesman di sebuah perusahaan sabun. Pekerjaan sales ini cukup memberinya waktu lowong, yang diisinya dengan berlatih kungfu. Kungfu bukan sekedar bela diri, namun juga mengandung nilai-nilai kedisiplinan, tanggungjawab, komitmen, perjuangan dan kemauan keras. Nilai-nilai luhur ini semakin membentuk jati diri Andrie Wongso. Selain itu, ketegaran orang tua Andrie dalam menghadapi kemiskinan juga berperan besar dalam pembentukan karakter dirinya.

Ketika film-film kungfu Hongkong mem-booming di tahun 70-an, hati Andrie muda tergelitik ingin menjadi seorang bintang film. Untuk menggapai cita-cita ini, tahun 1978 Andrie berhenti bekerja dan mulai mengirimkan lamaran ke perusahaan-perusahaan film di Hongkong. Namun selama tiga bulan tak ada satu pun perusahaan film yang memanggilnya. Masa-masa itu merupakan masa yang berat bagi Andrie muda. Ia mengalami tekanan mental yang luar biasa. Tekanan hidup yang dialaminya ternyata tidak berhenti di situ saja. Pada saat bersamaan, salah satu orang tuanya meninggal. Bukan hal yang mudah bagi kita untuk membayangkan, apalagi menghadapi derita yang dialami Andrie Wongso. Andrie muda pulang ke Malang. Pada tahun 1979 kembali ke Jakarta untuk mengadu nasib. Kali ini Andrie tampil sebagai seorang pelayan toko yang hanya melayani pembeli tetapi tidak bisa masuk ke dalam toko, alias setengah kuli.

Untuk mengisi waktu luang, Andrie muda yang semakin beranjak dewasa mendirikan sebuah perguruan kungfu bernama Hap Kun Do. Hingga akhirnya penghasilan dari melatih kungfu yang diperolehnya lebih besar daripada gaji sebagai pelayan toko. Di sinilah kembali muncul impian untuk menjadi bintang film. Andrie lalu keluar dari pekerjaannya dan berlatih kungfu secara intensif selama dua minggu, kemudian mengirimkan foto dan surat lamaran ke Hongkong. Meminjam istilah orang awam, dewi fortuna ternyata masih tidak berpihak kepadanya. Tiga bulan hidup dengan tanpa penghasilan bukan hal yang mudah untuk dilalui, sebab itu ia berusaha untuk memotivasi diri sendiri. Tiga bulan kemudian, buah karma baik menghampirinya. Selama tiga tahun kemudian Andrie muda berhasil mewujudkan impiannya menjadi bintang film di Taiwan, meski bukan sebagai aktor utama.

Setelah tiga tahun menekuni profesi sebagai bintang film, Andrie kembali ke Indonesia dan mulai merintis jalan sebagai seorang pengusaha pembuat kartu ucapan. Tahun 1985 lahirlah Harvest. Pada awalnya bisnis ini tidak berjalan dengan mudah, berbagai macam penolakan dan hambatan selalu menghampirinya. Dimulai dari penjualan kartu secara keliling dari sebuah kamar kost, usaha tersebut berjalan sukses. Hingga saat ini Harvest telah memiliki beberapa perusahaan pendamping. Boleh dibilang Andrie Wongso sejak tahun 80-an telah menjadi seorang motivator karena produk Harvest pada awalnya berupa kartu berisikan ucapan motivasi yang kemudian berkembang menjadi produk-produk inovatif lainnya. Tahun 1992 adalah momentum bagi Andrie Wongso untuk terjun secara total dalam bidang motivasi dari hasil ‘pencerahan’ yang didapatkannya setelah mempelajari Buddhisme secara lebih mendalam.

Dalam bidang motivation training, Andrie menggagas sebuah pemikiran filosofis Action and Wisdom Motivation Training yang bersumber dari ajaran Buddha, yakni hukum tentang pikiran, hukum tentang perubahan dan hukum tentang sebab akibat. Filosofi terkenal dari Andrie Wongso adalah “Success is My Right” yang lahir enam tahun yang lalu. Pelatihan yang diberikan Andrie Wongso tidak terbatas hanya pada kalangan Buddhis, namun sudah merambah ke seluruh lapisan, baik perguruan tinggi, BUMN, perusahaan swasta, atlet dan lain-lain.

Test Posting-2

img_2891_2058_20120705155233

Menjadi seorang wirausaha sukses jangan drop out atau putus kuliah. Demikian dikatakan oleh pengurus pusat Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) Sandiaga S Uno dalam kulih tamu ICMI di Gedung FT UB, Kamis (5/7).

“Saya adalah orang yang mendukung bahwa pendidikan itu sangat penting untuk ditempuh dan tidak harus ditinggalkan. Terutama buat para calon wirausahawan muda yang ingin sukses,”kata Sandi.

Sandi mengatakan bahwa melalui pendidikan tinggi, kita bisa belajar mengenai inovasi, teknology, dan menjalin relasi.

Menurutnya mind set atau pemikiran yang selama ini muncul bahwa untuk menjadi pengusaha sukses harus meninggalkan bangku kuliah perlu dihapus karena kampus merupakan kawah candra dimuka bagi calon entrepreneur.

Ditambahkan oleh Sandi, bahwa semua individu dari berbagai latar belakang mampu menjadi seorang pengusaha, baik dari politisi, Pegawai Negeri Sipil (PNS),ataupun aktivis.

“Yang terpenting dalam menjadi seorang wirausaha sukses, harus bisa menanamkan nilai-nilai jujur, humanisme, profesional, dan bersaing secara sehat,”katanya.

Pengusaha sekaligus pengurus pusat ICMI Sandiaga Salahudin Uno, MBA
Pengusaha sekaligus pengurus pusat ICMI Sandiaga Salahudin Uno, MBA

Mind set atau pemikiran kedua yang perlu diubah adalah semangat pantang menyerah dan tetap konsisten terhadap bidang usaha yang ditekuni.

“Menjadi seorang pengusaha sukses tidak ada yang instan. Kegagalan merupakan tangga menuju keberhasilan,”katanya.

Sandi menambahkan bahwa perguruaan tinggi sebagai kawah candra dimuka nantinya harus mampu menciptakan individu yang menciptakan lapangan kerja bukan mencari pekerjaan.

“Mimpi saya kedepan adalah 60 persen perguruan tinggi di Indonesia mampu menciptakan lapangan kerja bukan mendidik mahasiswanya untuk mencari pekerjaan,”katanya.

Kemampuan menjadi seorang wirausaha sukses di Indonesia didukung dengan melimpahnya potensi sumber daya alam dan sektor pariwisata yang tidak bisa dibandingkan dengan negara lain.

“Indonesia mempunyai banyak sumber daya alam potensial, seperti di bidang batubara, minyak dan gas bumi selain itu sektor pariwisata yang dimiliki tidak kalah menarik dengan negara lain,”kata Sandi.

Sayangnya, dari potensi-potensi yang dimiliki oleh Indonesia tersebut tidak banyak dimanfaatkan bangsa Indonesia.

“Kita memiliki 70% potensi laut, namun kita masih melakukan impor ikan. Di sektor pariwisata kita hanya mampu menarik 8 juta wisatawan kalah dengan Malaysia yang mampu menarik 25 juta wisatawan,”kata Sandi menambahkan.

Banyaknya potensi yang dimiliki Indonesia merupakan kesempatan bagi para pengusaha untuk memanfaatkannya. Hal tersebut akan membangkitkan semangat wirausaha bagi generasi muda Indonesia sehingga bisa setara di tataran global sekaligus mampu bersaing dengan produk-produk dari negara lain.

“Semoga ketika saya kembali lagi ke Malang, saya bisa melihat merek-merek dalam negeri menjamur di pasaran,”kata Sandi berharap.

Test Posting 1

richard-branson-611x270

Apakah Orang “Bodoh” Bisa jadi Pengusaha Sukses?.

richard-branson-611x270

Sebelum kita membahas judul dari artikel diatas mari kita bahas dulu makna kata “Bodoh”. Kata “Bodoh” dalam masyarakat kita sering diartikan tidak sekolah atau tidak masuk rangking kelas. Bukan ini makna kata bodoh yang kami pakai diartikel ini. Bodoh yang akan dibahas di artikel ini lebih bermakna malas. Malas belajar, malas membaca, tidak mau belajar. Bukan persoalan sekolah atau tidak, dan masuk rangking kelas.

Artikel ini ditulis untuk menerangkan lebih lanjut tentang sebuah pemahaman dikalangan entrepreneur muda bahwa “Kalau mau jadi pengusaha tidak perlu sekolah”. Statement ini sering didengungkan di banyak seminar wirausaha. Statement ini muncul karena pembicara di seminar tersebut memang kebetulan tidak mengenyam pendidikan universitas atau memang drop out dari universitas. Tapi statement yang mereka lontarkan ini banyak dipahami secara keliru oleh para peserta seminar. Banyak anak muda yang mendengarkan seminar ini beranggapan bahwa “Tidak memiliki ilmupun bisa sukses”, “Malas belajarpun bisa sukses”. Kami pernah dapat komentar dari seorang teman yang sedang semangat menjadi pengusaha yang bunyinya “Ngapain mas rajin baca buku? Kan jadi pengusaha gak perlu pintar??”. Pernah juga “Ngapain mas menyelesaikan S1nya? Kan mau jadi pengusaha?”. Ada juga yang bilang “Ngapain capek-capek belajar untuk SPMB? Kan mau jadi pengusaha?”.

Mereka semakin yakin bahwa dengan pemahaman mereka setelah muncul artikel berjudul “10 orang bodoh sukses yang akhirnya sukses luar biasa”. Artikel tersebut juga memprofil 2 tokoh terkenal yaitu Albert Einstein dan Thomas Alva Edison. Kedua tokoh ini memiliki nasib yang sama yaitu keluar dari sekolah. Tapi apakah betul mereka di DO karena mereka anak bodoh? Untuk menjawab pertanyaan ini mari kita kaji mengenai salah satu penyakit yang wajib diketahui oleh para guru di luar negeri. Penyakit ini dikenal dengan nama ADHD atau Attention Deficit Hyperactivity Disorder.

Apa itu ADHD?

Singkat cerita ADHD adalah sebuah kelainan dalam otak manusia. Jika anda mencari literatur di internet mengenai ADHD banyak yang menerangkan kalau ini adalah penyakit yang mengganggu dan cenderung berpengaruh jelek. Padahal ini hanyalah sebuah kelainan yang menyebabkan si penderita sulit belajar mengikuti sistem sekolah biasa. Menurut kami artikel yang satu ini mengenai ADHD adalah artikel yang sangat membangun dan tidak menakutkan bagi penderita ADHD.

Thomas Alva Edison (General Electric), Albert Einstein, Richard Branson (Virgin Group), Ted Turner (CNN), Walt Disney, Henry Ford, Malcolm Forbes, William Randolph Hearst, John D. Rockefeller (Standard Oil yang sekarang dipecah jadi Chevron, ExxonMobil, BP, dan Conoco Phillip), dan Bill Gates (Microsoft) adalah pengusaha yang juga penderita ADHD. Jika kita mengetahui tentang penyakit ini, maka tidak heran jika Albert Einstein dan Thomas Alva Edison “terpaksa” keluar dari sekolah. Karena mereka tidak bisa belajar dengan cara yang diterapkan disekolah biasa. Dalam banyak kasus penderita ADHD lebih cepat belajar dengan bereksperimen daripada duduk manis dan hanya memperhatikan guru berceramah. Bahkan mereka akan cepat bosan dan tidak mau memperhatikan apa yang diterangkan oleh guru.

Sir Richard Branson adalah seorang pengusaha pendiri Virgin group. Dalam buku biografinya berjudul “Losing My Virginity” diterangkan kalau Branson tidak bisa membaca dan tidak bisa berdiam diri. Sehingga Branson harus belajar dengan banyak mendengar. Ia harus pandai memancing orang untuk bercerita, karena ia tidak bisa membaca. Inilah alasannya kenapa para penderita ADHD ini drop out dari sekolah. Mereka bukanlah pemalas, dan mereka bukanlah anak nakal. Mereka hanya berbeda karena mereka tidak dapat belajar dengan duduk manis selama seharian. Mereka harus bergerak dan bereksperimen terus. Walaupun mereka memiliki fokus yang singkat, penderita ADHD bisa menjadi super fokus jika menemukan sebuah kegiatan yang mereka sangat sukai. Bisa jadi mereka terlihat seperti anak yang tidak bersemangat di kelas, tetapi mereka menjadi anak yang paling rajin dan paling semangat mengerjakan eksperimen atau kegiatan outdoor yang menarik bagi mereka.

Selain ADHD ada juga penyakit yang disebut disleksia yang sangat menyulitkan para penderitanya untuk belajar di sekolah “normal”. Disleksia adalah penyakit yang menyebabkan penderita sulit membaca. Pada umumnya penderita disleksia tidak akan berprestasi di sekolah. Nilai mereka selalu saja buruk. Pada akhirnya sebagian memilih untuk keluar sekolah. Tetapi uniknya ada data yang mengatakan bahwa 1 dari 3 pengusaha di Amerika Serikat adalah penderita disleksia.

Powered by WordPress | Designed by: suv | Thanks to toyota suv, infiniti suv and lexus suv